bosanbosanlayan

menegakkan islam adalah tanggungjawap bersama


Leave a comment

Mengapa al-Quran Berbahasa Arab?

Tidak salah jika kita awali dengan menelusuri latar belakang pertanyaan ini.
Kita bisa menangkap, ada dua kemungkinan latar belakang ketika orang mempertanyakan, mengapa Allah menurunkan al-Quran dengan bahasa arab?
Dua kemungkinan itu bisa jadi terpuji, atau sebaliknya, bisa jadi sangat tercela.
Dan itu bukan hal yang aneh. Terkadang ada satu perbuatan yang memiliki nilai berkebalikan, kembali kepada niat pelakunya. Sebagai contoh, mengambil barang temuan.
Jika dia mengambil untuk dikembalikan ke pemiliknya, statusnya al-amin (orang yang amanah). Sehingga ketika barang ini rusak di luar keteledorannya, dia tidak wajib ganti rugi.
Sebaliknya, ketika dia mengambil dengan tujuan untuk memilikinya, statusnya al-Ghasib (orang yang merampas). Dia berdosa dan jika barang ini rusak di tangannya, wajib ganti rugi.

Kita kembali kepada pertanyaan di atas.
Ada dua kemungkinan yang melatar belakangi pertanyaan ini,
Pertama, dalam rangka mempertanyakan dan ‘menggugat’, mengapa Allah memilih bahasa arab untuk al-Quran. Apa istimewanya orang arab, sampai bahasanya digunakan untuk al-Quran?
Kedua, dalam rangka menggali hikmah, mengapa Allah memilih bahasa arab untuk kitab terakhirnya. Sehingga dengan memahami ini, kita akan semakin cinta dengan bahasa arab yang menjadi bahasa al-Quran. Dan tentu saja, ini tujuan mulia. Menggali hikmah yang bisa dijangkau manusia, agar semakin cinta dengan Dzat Yang Maha Hikmah.

Menggugat Entitas Bahasa Arab

Bagi sebagian orang yang sentimen dengan semua yang berbau ‘arab’, keberadaan al-Quran yang berbahasa arab, menjadi masalah besar baginya. Bahkan bahasa arab, dijadikan celah untuk menggugat keotentikan al-Quran.
Terutama kelompok liberal yang selalu menjadi masalah di masyarakat. Mereka melakukan upaya yang dikenal dengan desakralisasi al-Quran. Propaganda untuk meragukan kesucian al-Quran.
Salah satunya, sebuah tesis yang diterbitkan UIN suka 2004, yang berjudul Menggugat Otentisitas (keotentikan) Wahyu Tuhan. Penulis dengan terang-terangan menolak kesucian al-Quran.
Di tahun 2011, penulis menerbitkan buku dengan judul,
Arah Baru Studi Ulum Al-Quran: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya. Di buku inilah, penulis dengan terang-terangan menegaskan bahwa al-Quran yang ada di tangan kaum muslimin, sudah tidak lagi otentik. Alasan utamanya, karena al-Quran berbahasa arab.
Kita bisa simak kutipan pernyataannya,
“Wahyu sebagai pesan otentiks Tuhan masih memuat keseluruhan pesan Tuhan. Al-Qur’an sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab oral memuat kira-kira sekitar 50 persen pesan Tuhan. Dan Mushaf Usmani sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab tulis hanya memuat kira-kira tiga puluh persen pesan Tuhan. Jika selama menjadi wahyu masih memuat keseluruhan pesan Tuhan, tidak demikian halnya ketika telah menjadi Al-Quran dan Mushaf Usmani. (hlm.vii).

Dia juga menulisakan,
”Ketika pesan Tuhan diwadahkan ke dalam bahasa Arab itu, maka Muhammad sebagai agen tunggal Tuhan yang juga sebagai masyarakat Arab, memilih lafaz dan makna tertentu yang mampu memuat dua pesan, yakni pesan Tuhan dan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab.” (hlm. viii)

Dengan membaca sekali, siapapun akan menilai bahwa sejatinya orang ini telah menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdusta. Karena ada 50% pesan wahyu yang hilang, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan al-Quran kepada para sahabat.
Padahal Allah telah menegaskan di surat an-Najm,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ( ) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Muhammad tidaklah berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Semua itu adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3 – 4)

Mereka juga menuduh sahabat Utsman, yang menyatukan al-Quran dengan bahasa Quraisy. Hingga mereka menganggap bahwa al-Quran adalah alat untuk mewujudkan hegemoni Quraisy bagi dunia. Dalam salah satu jurnal yang diterbitkan IAIN semarang th. 2003, di pengantar redaksinya ditegaskan: ”Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”

Sebenarnya tidak jauh jika kita menyebut mereka telah mendustakan firman Allah, yang menyatakan bahwa Allah menjaga al-Quran yang Dia turunkan,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Akulah yang menurunkan al-Qur’an dan Aku sendiri yang akan menjaganya.” (QS. al-Hijr: 9).

Dan bagi kita tidak Aneh, ketika pemikiran nyeleneh semacam ini muncul di universitas yang merupakan kantong liberal.

Barangkali akan sangat memeras tenaga jika kita harus mencurahkan banyak pikiran untuk membantahnya. Siapapun anda, bisa membantahnya dengan logika yang sangat sederhana.
Kita semua mengakui, ketika al-Quran diturunkan, tentu ada banyak bahasa yang digunakan manusia. Ada bahasa arab, ada bahasa persi, bahasa romawi, di belahan timur ada bahasa cina, dst.
Satu pertanyaan, dengan bahasa yang mana, yang seharusnya digunakan al-Quran, agar kitab ini sesuai dengan selera penggemar liberal yang anti bahasa arab?
Berdasarkan prinsip di atas, apapun bahasa yang digunakan al-Quran, tidak akan lepas dari kritikan para liberal itu. Karena pada dasarnya, inti dari kritikan itu bukan di bahasanya, tapi karena ini kebenaran. Dan mereka dihadirkan, untuk memerangi kebenaran.

Hikmah al-Quran Diturunkan Berbahasa Arab

Selanjutnya kita akan membahas pertanyaan kedua, apa hikmah, Allah menurunkan al-Quran berbahasa arab? Berangkat dari sini, kita akan menggali sisi keistimewaan bahasa arab, sehingga Allah memilihnya sebagai bahasa al-Quran.
Sebelum melihat sisi keistimewaan bahasa arab, satu hal penting yang perlu kita tanamkan, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini dan Allah yang paling berhak untuk memilih siapa diantara makhluknya yang memiliki keunggulan melebihi yang lain. Ada milayaran manusia. Tentu saja, derajat mereka tidak sama. Allah berhak memilih, siapa diantara mereka yang berhak menjadi nabi dan rasul.
Ada ribuan bahasa di alam ini. dan Allah berhak memilih bahasa mana yang paling layak untuk kitab-Nya.
Kita yang hanya berposisi sebagai hamba, hanya bisa menerima, dan saja sama sekali tidak berhak mengkritik.
Semacam ini Allah ajarkan dalam firman-Nya,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

Tuhanmu menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan Dia memilih (sesuai yang Dia kehendaki). Mereka tidak bisa menentukan pilihan.” (QS. al-Qashas: 68)

Karena itu, alur berfikir yang benar terkait realita al-Quran, bukan bertanya, apa kelebihan bahasa arab, sehingga Allah memilihnya untuk bahasa al-Quran. Akan tetapi, cara berfikir yang tepat, bahwa dengan Allah memilih bahasa arab sebagai bahasa al-Quran, itu sudah sangat cukup untuk menjadi dasar yang menunjukkan bahasa arab memiliki banyak kelebihan.

Kelebihan Bahasa Arab

Allah menyebut bahasa arab dengan bahasa yang al-Mubin, yang artinya bahasa yang bisa menjelaskan.
Allah berfirman,

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

“Al-Quran itu turun dengan bahasa arab yang mubin.” (QS. as-Syu’ara: 195).

Ibnu Faris (w. 395) – salah satu ulama bahasa – menyatakan,

فلما خَصَّ – جل ثناؤه – اللسانَ العربيَّ بالبيانِ، عُلِمَ أن سائر اللغات قاصرةٌ عنه، وواقعة دونه

Ketika Allah Ta’ala memilih bahasa arab untuk menjelaskan (firman-Nya), menunjukkan bahwa bahasa-basaha yang lainnya, kemampuan dan tingkatannya di bawah bahasa arab. (as-Shahibi fi Fiqh al-Lughah, 1/4).

Diantara sisi penunjangnya, bahasa arab merupakan bahasa yang sangat tua dan terjaga. Dan semakin tua sebuah bahasa, akan semakin kaya dengan kosakata, semakin sempurna gramatikalnya dan banyak simbol-simbol makna.
As-Suyuthi memuji kekayaan linguistik dalam bahasa arab

لأنَّا لو احتجنا إلى أنْ نعبر عن السيفِ وأوصافه باللغةِ الفارسية، لما أمكننا ذلك إلا باسمٍ واحد؛ ونحن نذكرُ للسيفِ بالعربية صفاتٍ كثيرة، وكذلك الأسد والفرس وغيرهما من الأشياءِ المسميات بالأسماء المترادفة، فأين هذا من ذاك؟! وأين سائرُ اللغات من السَّعةِ ما للغةِ العرب؟! هذا ما لا خفاءَ به على ذي نُهية

Ketika kita hendak mengungkapkan kata pedang dengan bahasa persi, kita tidak akan bisa menceritakannya kecuali hanya dengan satu kata. Sementara kita bisa menyebut kata ‘pedang’ berikut sifat-sifatnya dengan banyak ungkapan dalam bahasa arab. Demikian pula kata ‘singa’ dan ‘kuda’ atau kata lainnya yang memiliki banyak sinonim. Sehingga bagaimana mungkin dua bahasa ini mau dibandingkan?! Bahasa mana yang lebih luas dari pada bahasa arab ?! semua orang yang berilmu mengetahuinya. (al-Mazhar fi Ulum al-Lughah, 1/254).

Syiar Islam dan Kunci Memahami Syariat

Mengingat Al-Quran berbahasa arab, hadis berbahasa arab, khazanah islam yang menjadi kara para ulama, berbahasa arab, maka bahasa arab menjadi kunci untuk memahami itu semua. Karena itulah, para sahabat menekankan agar umat islam berusaha memahami bahasa arab.
Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan,

تعلَّموا العربيةَ؛ فإنها من دينِكم

Pelajarilah bahasa arab, karena bahasa ini bagian dari agama kalian.” (Idhah al-Waqf, Ibnul Anbari, 1/31)

Umar juga pernah memerintahkan gubernurnya, Abu Musa al-Asy’ari untuk mengajarkan bahasa arab kepada penduduk Iraq,

أمَّا بعد، فتفقهوا في السنةِ، وتفقهوا في العربية، وأَعْرِبُوا القرآنَ فإنه عربي

“Pelajarilah sunah dan pelajarilah bahasa arab. Pahami al-Quran dengan bahasa arab. Karena kitab ini berbahasa arab.” (Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 30534).

Ada jutaan karya ulama yang semuanya berbahasa arab dan belum diterjemahkan. Tidak mungkin anda menunggu terjemahannya untuk bisa anda baca. Bahkan ribuan kitab itu, tidak mungkin diterjemahkan. Karena karya semacam ini, bukan konsumsi mereka yang tidak paham bahasa arab.
Syaikhul Islam menjelaskan,

إنَّ الله لما أنزل كتابَه باللسان العربي، وجعل رسولَه مبلغًا عنه الكتاب والحكمة بلسانه العربي، وجعل السَّابقين إلى هذا الدين متكلِّمين به، ولم يكن سبيل إلى ضبط الدِّينِ ومعرفته إلا بضبط هذا اللسان، صارت معرفته من الدِّين، وأقرب إلى إقامةِ شعائر الدين…

Allah Ta’ala menurunkan kitabnya berbahasa arab. Allah menunjuk Rasul-Nya untuk menyampaikan al-Quran dan sunah juga berbahasa arab. Allah juga menunjuk para sahabat yang pertama masuk islam, mereka berbicara dengan bahasa arab. Sementara tidak ada cara untuk memahami agama ini dengan benar, selain dengan memahami bahasa arab. Untuk itu, mempelajari bahasa arab, bagian dari mengamalkan ajaran agama, dan jalan paling dekat untuk menegakkan syiar agama… (al-Iqtidha, 1/450).

Tidak Paham Bahasa Arab, Sebab Kesesatan

Ribuan aliran sesat, salah satu sebabnya, mereka menafsirkan al-Quran dan sunah, tanpa didukung kaidah bahasa yang benar. Ahmadiyah meyakini adanya nabi palsu, karena mereka memahami kata ‘Khatam an-nabiyin’ dengan cincin para nabi, dan bukan penghujung para nabi. Ldii menilai sesat selain anggota kelompoknya, karena kata muttashil dalam periwayatan hadis, dibawa pada pembelajaran dan dakwah, yang itu tidak pada tempatnya. Mu’tazilah dan kelompok penerusnya menolak hadis ahad, karena salah paham dengan kata ‘dzan’. Dai MTA menghalalkan anjing, tikus, karena menelan ‘istisna’’ mentah-mentah.
Karena itu, benarlah apa yang disampaikan Imam Ayub as-Sikhtiyani – ulama tabiin – (w. 131 H),

عامة من تزندق من أهل العراق لجهلهم بالعربية

“Umumnya orang yang menyimpang mengikuti aliran sesat di kalangan penduduk Irak, karena mereka tidak paham bahasa arab.” (Khutbah al-Kitab, Abu Syamah, hlm. 63).

Keterangan lain disampaikan Imam Ibnu Syihab az-Zuhri – ulama tabiin, muridnya Abu Hurairah –,

إنما أخطأ الناس في كثير من تأويل القرآن لجهلهم بلغة العرب

Banyak masyarakat yang salah dalam mentakwilkan al-Quran, sebabnya adalah karena mereka tidak paham bahasa arab. (Khutbah al-Kitab, Abu Syamah, hlm. 63).

Hasan al-Bashri – ulama tabiin –,

أهلكتهم العجمة يتأولون القرآن على غير تأويله

Mereka sesat karena bahasa selain arab. Mereka mentakwil al-Quran, tidak sesuai takwil yang benar. (Syarh Mukhtashar ar-Raudhah, at-Thufi).

Cinta Ulama Terhadap Bahasa Arab

Kita akan simak, bagaimana syahwat para ulama terhadap bahasa arab.
Kita lihat beberapa keteragan dari mereka,
Keterangan as-Sya’bi – ulama Tabiin, muridnya Usamah, Abu Hurairah –,

النحو في العلم كالملحِ في الطعام لا يُستغنى عنه

Nahwu dalam ilmu itu seperti garam dalam makanan. Selalu dibutuhkan. (Jami Bayan al-Ilmi, 2/325).

Keterangan Muhammad bin Hasan – gurunya Imam as-Syafii –,

خلَّف أبي ثلاثين ألف درهم، فأنفقتُ نصفَها على النحوِ بالري، وأنفقتُ الباقي على الفقه

Ayahku meninggalkan warisan untukku 30.000 dirham (sekitar 12,75 kg emas). Separuhnya, saya gunakan untuk belajar nahwu di kota Roy. Sisinya saya gunakan untuk belajar Fiqh. (al-Ibar fi Khabar, 1/56).

Keterangan Abu Raihan al-Bairuni,

لأنْ أُشتَم بالعربيةِ خير من أُن أمدحَ بالفارسية

“Saya dihina dengan bahasa arab, lebih baik dari pada saya dipuji pake bahasa persi.”

Karena beliau merasa sangat senang bahasa arab terdengar di telinga beliau, sekalipun bentuknya kelimat celaan.

Imam as-Syafii dan Bahasa Arab

Ada buanyak keterangan Imam as-Syafii terkait bahasa arab. Yang menunjukkan bagaimana beliau sangat mencintai bahasa arab. Kita simak beberapa keterangan beliau,
Ilmu nahwu, kunci semua ilmu,

من تبَحَرَّ فى النحو اهتدى إلى كل العلوم

“Siapa yang menguasai nahwu, dia dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu.” (Syadzarat ad-Dzahab, hlm. 1/321).

Jawaban fiqh dengan kaidah nahwu,

لا أُسأَلُ عن مسألةٍ من مسائل الفقهِ إلا أجَبْتُ عنها من قواعدِ النحو

“Tidaklah aku ditanya tentang satu permasalahan fikih, selain aku jawab dengan kaidah nahwu.” (Syadzarat ad-Dzahab, hlm. 1/321).

Rajin belajar nahwu, agar bisa memahami fiqh,

ما أردتُ بها-يعنى:العربية-إلا الاستعانة على الفقه

“Tidaklah aku serius mempelajari nahwu, selain karena aku gunakan untuk membantu mempelajari fikih.” (Siyar A’lam an-Nubala, 10/75).

Sudah saatnya kita mencintai bahasa arab, dan membuktikan cinta itu dengan mempelajarinya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Advertisements


1 Comment

sayap lalat

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:  “Apabila lalat jatuh di bejana ataumakanan dan minumn salah satu diantara kalian maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”.

Dari Anas bin Malik radiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Apabila lalat jatuh pada bejana atau makanan dan minuman salah satu diantara kalian, maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan sayap lainnya terdapat obat”.

[Hadits Riwayat Bukhari no. 3320, 5782, Ahmad dalam Musnadnya No. 230, 246, 263, 340, 355, 388, 398, 443 Abu Dawud No. 3844, Ibnu Majah no. 3505, Ad-Darimi no. 2045, Ibnu Khuzaimah no. 105, Ibnu Hibban no. 1243, 5226, Al-Baihaqino. 252]

Dari Abu Said Al-Khudri radiyallahu anhu dari Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya pada salah satu diantara dua sayap lalat itu terdapat racun dan syap lainnya terdapat obat penawarnya. Apabila lalat jatuh di makanan maka celupkanlah karena lalat mengedepankan racun dan mengakhirkan obat penawarnya”.

[Hadits Riwayat Ahmad no. 67, Ibnu Majah no. 3504, An Nasa’i no. 4259, Al-Baihaqi no. 253]

Hadis2 ini juga telah terbukti melalui kajian sains moden

https://www.abc.se/home/m9783/ir/h/hof.html

http://www.abc.net.au/science/articles/2002/10/01/689400.htm


1 Comment

penjelasan meminum air kencing unta

Penjelasan tentang hadis sahabat meminum air kencing unta

GOLONGAN ANTI HADIS MERAGUI HADIS TENTANG NABI MUHAMMAD MENYURUH SAHABAT MEMINUM AIR KENCING UNTA HANYA KERANA IA TIDAK SESUAI DENGAN LOGIK AKAL YANG SEMEMANGNYA TERBATAS.

BERIKUT ADALAH PENJELASAN TENTANG HADIS TERSEBUT DAN BAGAIMANA SAINS MODEN MENGAKUI MUKJIZAT NABI MUHAMMAD TERSEBUT

Anas bin Malik radiallahu ‘anhu berkata:

Cuaca Madinah tidak sesuai untuk beberapa orang, maka Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh mereka mengikut pengembala untanya dan untuk mereka minum susu dan kencing unta tersebut.

Maka mereka mengikut pengembala itu dan minum susu serta kencing unta sehingga menjadi sihat semula badan mereka.

[ Sahih: Hadis dikeluarkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, al-Tirmizi, al-Nasa’i, Ibn Majah dan lain-lain dengan lafaz yang sedikit berbeza-beza tetapi dengan pengajaran yang sama, iaitu disuruh minum susu dan air kencing unta sebagai ubat. Di atas adalah lafaz al-Bukhari, lihat Sahih al-Bukhari – no: 5686 (Kitab Tibb, Bab Berubat dengan air kencing unta). ]

HADIS INI PADA ZAHIRNYA PELIK TETAPI LIHAT BAGAIMANA ANAS MENGATAKAN “Maka mereka mengikut pengembala itu dan minum susu serta kencing unta sehingga menjadi sihat semula badan mereka”.

INI ADALAH BUKTI BAGAIMANA SUSU DAN AIR KENCING UNTA MAMPU MEMBERI UBAT KEPADA SESETENGAH PENYAKIT…….

Ini adalah satu contoh kaedah perubatan yang dilakukan oleh Rasulullah yang sesuai dengan suasana masyarakat di zamannya. Ia adalah sesuatu yang diterima dan terbukti berkesan. Orang ramai di ketika itu tidak menolaknya, malah mereka menerimanya sebagai sejenis ubat yang mujarab. Ia hanya dipandang aneh oleh masyarakat di zaman kebelakangan kerana tidak biasa dengannya.

Rakan kamu (Nabi Muhammad yang kamu tuduh dengan berbagai tuduhan itu), tidaklah ia menyeleweng (dari jalan yang benar), dan ia pula tidak sesat (dengan kepercayaan yang salah).

Dan ia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan ugama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri.

Segala yang diperkatakannya itu (sama ada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

[ An-Najm 53: 2 – 4 ]

Adapun persoalan tentang najisnya kencing unta, para ahli fiqh mengatakan bahawa berdasarkan hadis di atas, dibolehkan minum air kencing daripada binatang yang halal dimakan dagingnya. Ia tidak lagi dipandang sebagai najis.

[ Dalam bab ini ada beberapa pendapat dan semuanya telah dikupas oleh al-Syaukani dalam Nail al-Authar (terj: Hadimulyo & K. Suhardi; CV. asy-Syifa’, Semarang 1994), jld 1, ms 101-108. ]

Hadis itu TIDAK membawa maksud, kita disuruh menjadikan air kencing unta sebagai “minuman rasmi” atau “minuman adat” kita seperti Pepsi atau Coca Cola atau air kosong. Penggunaan air kencing unta mengikuti petunjuk yang berada di dalam hadis ini khusus untuk penggunaan perubatan ketika ‘dharuurah’ atau keterdesakan sahaja.

Maka, ini tergolong dalam Bab “Berubat Dengan Menggunakan Benda-benda Haram”. Adakah dibolehkan atau tidak. Jawapannya dibolehkan ketika dharuurat.

Seperti mana Allah menjelaskan di dalam al-Quran pengharaman makan bangkai, daging khinzir dan darah, tapi Allah membenarkan kita makan semua itu apabila keadaan berubah kepada “dharuurah” atau keterdesakan. Maka, perkara yang najis, kotor, dan jijik pun Allah benarkan kita makan ketika ‘dharuurah’, yakni ketika dibimbangi berlakunya kebinasaan jiwa dan kematian, ketika tidak ada lagi makanan lain yang boleh dimakan dan ditakuti seseorang itu akan mati kebuluran.

Maka, tidakkah dihalalkan makan benda najis seperti babi, bangkai dan darah yang disebutkan dalam firman Allah itu serupa dengan dibenarkan berubat dengan “air kecing unta” yang juga merupakan najis ketika keadaan mendesak atau dharuurat?

Saintis telah mengkaji kandungan dalam air kencing unta dan mereka telah mendapati ia ada memiliki khasiat-khasiat tertentu yang dapat merawat kanser dan penyakit-penyakit lain. Apakah tidak ini satu bukti bahawa kandungan hadis-hadis Rasulullah itu terbukti benar?

BUKTI SAINS MODEN MEMPERAKUI DAN MENGGUNAKAN KAEDAH NABI MUHAMMAD

http://greenboc.blogspot.com/2011/04/air-kencing-unta-cegah-kesan-radiasi.html

Malah lebih dari itu ia telah dimuatkan dalam jurnal2 milik negara barat ( sila copy dan paste link atas dan bawah dalam browser kalo tidak boleh klik terus )

http://www.health-science-spirit.com/urine.html

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22922085


Leave a comment

Hukum jihad menurut ulama

Hukum Jihad itu terbagi dua : Fardu A’in dan Fardu Kifayah. MenurutIbnul Musayyab hukum Jihad adalah Fardu A’in sedangkan menurut Jumhur Ulama hukumnya Fardy Kifayah yang dalam keadaan tertentu akan berubah menjadi Fardu A’in. 

A. Fardu Kifayah : 

Yang dimaksud hukum Jihad fardu kifayah menurut jumhur ulama yaitumemerangi orang-orang kafir yang berada di negeri-negeri mereka. Makna hukum Jihad fardu kifayah ialah, jika sebagian kaum muslimindalam kadar dan persediaan yang memadai, telah mengambil tanggung- jawab melaksanakannya, maka kewajiban itu terbebas dari seluruh kaummuslimin. Tetapi sebaliknya jika tidak ada yang melaksanakannya, maka kewajiban itu tetap dan tidak gugur, dan kaum muslimin semuanya berdosa.

“Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak turut berperang)dari kalangan orang-orang yang beriman selain daripada orang-orang yang ada keuzuran dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allahdengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk(tidak turut berperang karena uzur) dengan kelebihan satu derajat. Dan tiap-tiap satu (dari dua golongan itu) Allah menjanjikan denganbalasan yang baik (Syurga), dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperangdan tidak ada uzur) dengan pahala yang amat besar.” (QS An-Nisa 95) 

Ayat diatas menunjukan bahwa Jihad adalah fardu kifayah, maka orangyang duduk tidak berjihad tidak berdosa sementara yang lain sedang berjihad. ketetapan ini demikian adanya jika orang yang melaksanakanjihad sudah memadai(cukup) sedangkan jika yang melaksanakan jihad belum memadai (cukup) maka orang-orang yang tidak turut berjihad itu berdosa.Dan jihad ini diwajibkan kepada laki-laki yang baligh, berakal, sehat badannya dan mampu melaksanakan jihad. Dan ia tidak diwajibkan atas:anak-anak, hamba sahaya, perempuan, orang pincang, orang lumpuh, orang buta, orang kudung, dan orang sakit. 

“Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincangdan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akanmemasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azabyang pedih.” (QS Al-Fath 17) 

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yanglemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlakuikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampunlagi Maha Penyayang.” (QS At-Taubah 91) 
“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datangkepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalumereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan merekanafkahkan.” (QS At-Taubah 92)
“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orangyang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang danAllah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS At-Taubah 93) 

Ibnu Qudamah mengatakan: “Jihad dilaksanakan sekurang-kurangnya satukali setiap tahun. Maka ia wajib dilaksanakan pada setiap tahun kecuali uzur. Dan jika keperluan jihad menuntut untuk dilaksanakanlebih dari satu kali pada setiap tahun, maka jihad wajib dilaksanakan karena fardu kifayah. Maka jihad wajib dilaksanakan selamadiperlukan.” 
Imam Syafi’i mengatakan : “Jika tidak dalam keadaan darurat dan tidak ada uzur, perang tidak boleh diakhirkan hingga satu tahun.” 

Al-Qurtubi mengatakan: “Imam wajib mengirimkan pasukan untuk menyerbumusuh satu kali pada setiap tahun, apakah ia sendiri atau orang yang ia percayai pergi bersama mereka untuk mengajak dan menganjurkanmusuh untuk masuk Islam, menolak gangguan mereka dan menzahirkan Dinullah sehingga mereka masuk Islam atau menyerahkan jizyah.” 

Abu Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini, yang terkenal denganpanggilan Imamul Haramain mengatakan : “Jihad adalah dakwah yang bersifat memaksa, jihad wajib dilaksanakan menurut kemampuan sehinggatidak tersisa kecuali Muslim atau Musalim, dengan tidak ditentukan harus satu kali didalam setahun, dan juga tidak dinafikan sekiranyamemungkinkan lebih dari satu kali. Dan apa yang dikatakan oleh para Fukaha (sekurang-kurangnya satu kali pada setiap tahun, merekabertitik tolak dari kebiasaan bahwa harta dan pribadi(jiwa) tidak mudah untuk mempersiapkan pasukan yang memadai lebih dari satu kalidalam setahun.”Perlu kita fahami bahwa praktek jihad yang hukumnya fardu kifayah ini adalah jihad yang secara langsung berhadapan memerangi orang-orangkafir, sedangkan jihad yang tidak secara langsung berhadapan dengan orang-orang kafir hukumnya fardu a’in. 

Sulaiman bin Fahd Al-Audah mengatakan, “Ibnu Hajar telah memberikanisyarat tentang kewajiban Jihad – dengan makna yang lebih umum – sebagai fardu a’in, maka beliau mengattakan : “Dan juga ditetapkanbahwa jenis jihad terhadap orang kafir itu fardu a’in atas setiap muslim : baik dengan tangannya, lisannya, hartanya ataupun denganhatinya.” 
Hadith-hadith yang menerangkan bahwa hukum jihad dalam makna yangumum (dengan tangan, harta atau hati) itu jihad fardu a’in, antara lain : 

“Barangsiapa yang mati sedangkan ia tidak berperang, dan tidaktergerak hatinya untuk berperang, maka dia mati diatas satu cabang kemunafikan.” (HR Muslim, Abu Daud, Nasai, Ahmad, Abu Awanah dan Baihaqi) 

“Sesiapa yang tidak berperang atau tidak membantu persiapan orangyang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, niscaya Allah timpakan kepadanya kegoncangan.” Yazid binAbdu Rabbihi berkata : “Didalam hadist yang diriwayatkan ada perkataan “sebelum hari qiamat.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Darimi,Tabrani, Baihaqi dan Ibnu Asakir) 

Dari dua hadith di atas kita mendapat pelajaran bahwa ancaman kematian pada satu cabang kemunafikan dan mendapat goncangan sebelumhari kiamat adalah bagi orang yang tidak berjihad, tidak membantu orang berjihad dan tidak tergerak hatinya untuk berjihad. 

Jadi orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk pergi berperangsecara langsung mengahadapi orang-orang kafir, mereka harus tergerak hatinya untuk berperang seperti halnya orang yang lemah dan orangyang sakit. Dan sekiranya hukum jihad secara langsung berhadapan dengan orang- orang kafir sudah berubah dari fardu kifayah menjadi fardu a’in, makatidak ada yang dikecualikan siapapun harus pergi berperang dengan apa dan cara apapun yang dapat dilakukan. Dibawah ini akah dibahasmengenai keadaan Jihad yang hukumnya fardu a’in. 

B. Fardu A’in 
Hukum Jihad menjadi Fardu A’in dalam beberapa keadaan: 

1. Jika Imam memberikan perintah mobilisasi umum. 

Jika Imam kaum muslimin telah mengumumkan mobilisasi umum maka hukumjihad menjadi fardu a’in bagi kaum muslimin yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan jihad dengan segenap kamampuan yang dimilikinya. Dan jika Imam memerintahkan kepada kelompok atau orang tertentu maka jihad menjadi fardu ain bagi siapa yang ditentukan oleh imam.

Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw bersabda pada hariFutuh Mekkah: 

“Tidak ada hijrah selepas Fathu Mekkah, tetapi yang ada jihad danniat, Jika kalian diminta berangkat berperang, maka berangkatlah.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasai, Darimi dan Ahmad) 

Makna Hadith ini : “Jika kalian diminta oleh Imam untuk pergi berjihad maka pergilah” 

Ibnu Hajjar mengatakan : “Dan didalam hadist tersebut mengandungkewajiban fardu ain untuk pergi berperang atas orang yang ditentukan oleh Imam.” 

2. Jika bertemu dua pasukan, pasukan kaum Muslimin dan pasukankuffar. 
Jika barisan kaum muslimin dan barisan musuh sudah berhadapan, makajihad menjadi fardu ain bagi setiap orang Islam yang menyaksikan keadaan tersebut. Haram berpaling meninggalkan barisan kaum Muslimin.Allah berfirman : 
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)”. (QS Al-Anfal 15) 

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecualiberbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawakemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS Al-Anfal 16) 

Rasulullah saw bersabda : “Jauhilah tujuh perkara yangmembinasakan, “Beliau saw ditanya: “Ya Rasulullah, apa tujuh perkara yang membinasakan itu?” Beliau saw menjawab : (1) MempersekutukanAllah, (2) Sihir, (3) Membunuh orang yang telah dilarang membunuhnya, kecuali karena alasan yang dibenarkan Allah, (4)Memakan harta anakyatim, (5) Memakan riba, (6) lari dari medan pertempuran; dan (7) Menuduh wanita mu’minah yang baik dan tahu memelihara diri, berbuatjahat (zina).” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasai, Thahawi, Baihaqi, Baghawi). 

3. Jika musuh menyerang wilayah kaum Muslimin. 

Jika musuh menyerang kaum muslimin maka jihad menjadi fardu ain bagipenghuni wilayah tst. Sekiranya penghuni wilayah tsb tidak memadai untuk menghadapi musuh, maka kewajiban meluas kepada kaum musliminyang berdekatan dengan wilayah tst, dan seterusnya demikian jika belum memadai juga, jihad menjadi fardu ain bagi yang berdekatan berikutnya hingga tercapai kekuatan yang memadai. Dan sekiranya belum memadai juga, maka jihad menjadi fardu ain bagi seluruh kaum muslimindiseluruh belahan bumi. Ad Dasuki (dari Mazhab Hanafi) berkata : “Didalam menghadapi serangan musuh, setiap orang wajib melakukannya, termasuk perempuan, hambasahaya dan anak- anak mesikipun tidak diberi izin oleh suami, wali dan orang yang berpiutang. 

Didalam kitab Bulghatul Masalik li Aqrabil Masalik li Mazhabil ImamMalik dikatakan : “…Dan jihad ini hukumnya fardu ain jika Imam memerintahkanya, sehingga hukumnya sama dengan sholat, puasa dan lainsebagainya. Kewajiban jihad sebagai fardu ain ini juga disebabkan adanya serangan musuh terhadap salah satu wilayah Islam. Maka bagi siapa yang tinggal di wilayah tersebut, berkewajiban melaksanakan jihad, dan sekiranya orang-orang yang berada disana dalam keadaanlemah maka barangsiapa yang tinggal berdekatan dengan wilayah tersebut berkewajiban untuk berjihad. 

Dalam keadaan seperti ini, kewajiban jihad berlaku juga bagi wanitadan hamba sahaya walaupun mereka dihalang oleh wali, suami, atau tuannya, atau jika ia berhutang dihalangi oleh orang yagn berpiutang. Dan juga hukum jihad menjadi fardu ain disebabkan nazar dari seseorang yang ingin melakukannya. 

Dan kedua ibu-bapa hanya berhak melarang anaknya pergi berjihad manakala jihad masih dalam keadaan fardu kifayah. Dan juga fardu kifayah membebaskan tawanan perang jika ia tidak punya harta untuk menebusnya, walaupun dengan menggunakan serluruh harta kaum muslimin. 

Ar-Ramli (Dari Mazhab Syafi’i) mengatakan : “Maka jika musuh telahmasuk kedalam suatu negeri kita dan jarak antara kita dengan musuh kurang daripada jarak qashar sholat, maka penduduk negeri tersebutwajib mempertahankannya, hatta (walaupun) orang-orang yang tidak dibebani kewajiban jihad seperti orang-orang fakir, anak-anak, hamba sahaya dan perempuan. 

Ibnu Qudamah (dari Mazhab Hambali) mengatakan :”Jihad menjadifardu ‘ain didalam 3 keadaan: a. Apabila kedua pasukan telah bertemu dan saling berhadapan. 

b. Apabila orang kafir telah masuk (menyerang) suatu negeri (diantaranegeri negeri Islam), Jihad menjadi fardu ain atas penduduknya untuk memerangi orang kafir tsb dan menolak mereka. 

d. Apabila Imam telah memerintahkan perang kepada suatu kaum, makakaum tsb wajib berangkat. 

## apa yg pasti menyelematkan palestin adalah fardu ain

Jiika takot dan tak mampu

Jgn plak halang org yang cuba menyelematkan baitul maqdis


Leave a comment

Menjawap persoalan anti hadis ayat 5:95 “sebagai hadiah yang disampaikan ke Kaabah”

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh
binatang-binatang buruan ketika kamu sedang berihram.
Dan sesiapa di antara kamu yang membunuhnya dengan sengaja,
maka dendanya dengan BINATANG TERNAK yang sama dengan
binatang buruan yang dibunuh itu, yang ditetapkan hukumnya oleh dua orang yang adil di antara kamu,
SEBAGAI HADIAH YANG DISAMPAIKAN KE KAABAH atau bayaran kaffarah 5:95

tafsiran aku utk ayat itu
KAABAH adalah kandang kerbau utk binatang ternak dihadiahkan kesana utk disembelihkan, seperti yg ditunjukkan dipadang pasir sekarang
org2 bodoh (binatang ternak) dihadiahkan kepadang pasir utk disembelihkan sampai kocek kosong dan berhutang.

sekarang kongsikan tafsirkan kau diayat itu
klau tidak, aku fahamkan yg kau pun setuju dgn tafsiran aku.

=============================================

benda ni pun banyak kali ditanya oleh anti hadis.. dan banyaak kali jugak sudah dijawap … semuanya logik.. logik logik … logik

Dan di antara mereka pula ada orang-orang yang buta huruf, mereka tidak mengetahui akan isi al-Kitab selain dari angan-angan (penerangan-penerangan bohong dari ketua-ketua mereka), dan mereka hanyalah berpegang kepada sangkaan-sangkaan sahaja.” – [ al-Baqarah: 2/78 ].

pertanyaan kepada golongan anti hadis

kenapa x habiskan sambungan ayat mksd bayaran kaffarah? sbb ATAU itu menjelaskan maksud dan tujuan

“sebagai hadiah yang disampaikan ke Kaabah”

dan utk memudahkan pemahaman supaya tidak tersesat jalan ini tafsir sunni

sebagai hadiah yang disampaikan ke Kaabah (untuk disembelih dan dibahagikan kepada fakir miskin di Tanah Suci), atau bayaran kaffarah, iaitu memberi makan orang-orang miskin

perhatikan terjemahan william picktall

Whoso of you killeth it of set purpose he shall pay its forfeit in the equivalent of that which he hath killed, of domestic animals, the judge to be two men among you known for justice, (the forfeit) to be brought as an offering to the Ka’bah; or, for expiation, he shall feed poor persons, or the equivalent thereof in fasting,

die memisahkan satu dgn tanda ” ; ” selepas kaabah

selanjutnya die menggunakan ” , ”

ini bukan disengajakan tapi ada maknanya …… iaitu bayaran kaffarah itu menjelaskan maksud “sebagai hadiah yang disampaikan ke Kaabah”

Capture


Leave a comment

Wahabi, sufi, asyariyah dan jemaah tabligh

Saya tengok ramai sangat kawan bersengketa antara wahabi, sufi ( tasawuf atau tarekat ), asyariyah ( dan mautiridyah ) dan jemaah tabligh ( deobondi )

Siapakah mereka ini.. Adakah mereka ini sunni…

1. Wahabi

golongan wahhabi pada asasnya berpegang kepada mazhab Imam Ahmad ibn Hanbal (Mazhab Hambali).

Hakikatnya fahaman Wahabi tidak membawa pemikiran baru tentang akidah. Mereka hanya mengamalkan apa yang telah dikemukakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bentuk yang lebih keras berbanding apa yang diamalkan oleh Ibnu Taimiyyah sendiri.

Shaikh Atiyyah Saqr mantan ketua fiqh fatwa mesir pun pernah ditanya oleh pelajar2 Mesir tentang Muhammad bin Abdul Wahab, jawapannya “al-Wahhabiyyah dinisbahkan kepada al-Shaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. al-Sahikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Muslih Diniyy (Reformer agama) yang muncul di Kepulauan Tanah Arab. Beliau memerangi kemungkaran dan bid’ah yang tidak menepati agama. Beliau telah bersungguh-sungguh dalam menetapkan tauhid Allah s.w.t. Terdapat di sana sebagai contoh, beberapa masyarakat yang bertawassul dengan beberapa para wali dan mengambil berkat daripada mereka serta memuliakan mereka dengan kemuliaan yang besar ke tahap yang menunjukkan seolah-olah individu-individu wali itu merupakan para nabi atau seolah-olah mereka adalah Allah s.w.t. Melampau dalam cinta boleh membawa kepada kufur. Disebab itu, apabila Nabi s.a.w. melihat para sahabat r.a. amat-amat mencintai Baginda –dan memang wajib ke atas kita untuk mencintai Rasul dan mencintai Allah s.w.t. – akan tetapi melampau dalam cinta adalah suatu perkara yang ditolak. Apabila Rasul s.a.w. melihat kemelampauan para sahabat dalam cinta, Baginda takut mereka akan mengangkatnya melebihi statusnya, lalu Baginda bersabda, ‘Jangan kamu semua memujiku secara melampau sebagaimana golongan Nasrani telah memuji al-Masih Bin Maryam secara melampau. Akan tetapi sebutlah, ‘Hamba Allah dan rasulNya’ ‘ Iaitu jangan puji aku dengan pujian yang amat besar sehingga kamu berikan kepadaku melebihi apa yang aku berhak sepertimana golongan Nasrai cinta Isa bin Maryam dan mengagungkannya dengan pengagungan yang besar sehingga sampai ke tahap mereka sebut Baginda adalah tuhan atau anak tuhan. Melampaui batas dalam cinta adalah perkara yang amat munkar dan ditolak sama sekali. Justeru, Muhammad bin Abdul Wahhab dalam usaha reformasinya telah menekankan perkara ini iaitu tauhid atau pemurnian tauhid bagi Allah s.w.t. dan kepercayaan bahawa Dialah Pembuat kepada segala sesuatu, Dialah Yang mengkayakan, Yang menghidupkan, Yang mematikan. Akan tetapi individu-individu yang diambil berkat mereka oleh orang ramai ke tahap mungkin menjadikan salah seorang daripada mereka berkata, ‘Shaikh besar ini dapat menyembuhkan orang-orang sakit,’ ‘Shaikh besar ini di tangannya rezeki, di tangannya segala sesuatu.’ Melampau dalam menisbahkan perkara ini kepada orang ramai, kemelampauan ini boleh membawa kepada kekufuran. Kerana Allah lah yang bersendirian Yang di dalam tanganNya segala sesuatu. Jadi beliau (Muhammad bin Abdul Wahhab) telah bangun dengan kebangkitan reformasi (islahiyyah) ini dan memberi penekanan yang kuat kepada pemurnian tauhid bagi Allah s.w.t. Walaupun sebahagian pelajar-pelajarnya dan sebahagian yang mengambil mazhabnya, mereka telah melampau dalam tauhid ini, mereka melampau dengan banyak, di mana mereka melarang beberapa perkara yang dapat dihidu daripadanya walaupun dengan sedikit bau, dapat dihidu daripadanya bahawa di sana terdapat sekutu bagi Allah. Akan tetapi saya telah mengatakan dan saya ulangi lagi bahawa kemelampauan dalam semua perkara boleh membawa kepada kesesatan yang amat amat amat besar. Kita semestinya sentiasa menjadi pertengahan (mu’tadilin), jadi rasional sebelum memberi sebarang hukum kepada sesuatu. Kita mesti meneliti dan memahami sebenar-benarnya. Ini kerana tergopoh-gapah dalam mengeluarkan hukum kepada mana-mana manusia yang cinta manusia lain di kalangan para wali contohnya, tergopoh-gapah dalam memberi label kufur kepadanya adalah perkara yang amat memudaratkan. Anda semua pasti tahu hadith yang menyatakan, ‘Siapa berkata kepada saudaranya ‘Wahai kafir’ maka kembali dengannya salah seorang daripada mereka berdua. Kalau benar sebutan itu (maka benarlah) tetapi kalau tidak benar ianya kembali kepadanya’. Apapun yang pentingnya, sebahagian pengikut-pengikut Shaikh yang besar ini telah melampau dalam perkara ini dan mereka telah mengingkari benda-benda ke tahap mereka menghukum ke atas sebahagian manusia sebagai kafir, dan ini adalah satu kesilapan besar. ”

Rakaman jawapan Shaikh Atiyyah Saqr yang merupakan bekas ketua Lajnah Fatwa Mesir ini boleh dilihat pada pautan berikut: http://www.youtube.com/watch?v=K-K0Mnmqpzs

2. Sufi ( tasawuf atau tarekat )

Menjadi satu paradoks moden bahawa di Barat semakin ramai Islamologis yang mengkaji tentang Sufi dan Kesufian (Sufisme) sedangkan di Timur dan di kalangan sarjana Muslim sendiri bukan saja Sufi itu dicemuh malah terdapat banyak usaha untuk menjatuhkan imej Sufisme (mahkota dan intipati islam ) itu sendiri , sedangkan Islam yang sebarkan ke Nusantara , India dan ke Timur amnya semuanya disebarkan oleh para ahli da’i Sufi dan penyebar tarekat .

Berkata ulama muktabar madinah imam malik

 “Orang yang mengamalkan tasawuf tanpa mempelajari fikih, ia merusak imannya, sedangkan orang yang memahami fikih tanpa menjalankan tasawuf ia merusak dirinya sendiri. Hanya orang yang memadukan keduanyalah yang menemukan kebenaran (man tashawwafa wa lam yatafaqqah fa qad tazandaqa waman tafaqqaha wa lam yatashawwaf faqad tafassaqa wa man jama`a baina humâ fa qad tahaqqaqa).”
Riwayat ini disampaikan oleh beberapa ahli hadis di zamannya, seperti Ahmad Zarruq (w. 899H), Ali Al-Qârî Al-Hawari (w. 1014H), Ali Ibn Ahmad al-Adawi (w. 1224H) dan yang lainnya. 

Imam Syafii yang mazhab fiqihnya paling berpengaruh di Nusantara pun sangat alim dalam ilmu tasawuf. Hal ini seperti apa yang dituturkan oleh Al-Hâfiz As-Suyuti yang mengungkapkannya dalam Ta’yîd al-haqîqat al-âliyah bahwa Imam Syafi`i pernah mengatakan:

“Saya menyertai para sufi dan memperoleh tiga hal saja dari mereka, yakni pernyataan: pertama, waktu adalah pedang, kalau bukan kamu yang mematahkannya, maka ia yang akan mematahkanmu; kedua, apabila kamu tidak terus menyibukkan egomu dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kepalsuan; ketiga, penghilangan adalah kekebalan.

Imam Mazhab Hambaliyah ini juga tidak mengharamkan tasawuf.

Seperti apa yang disampaikan oleh Muhammad Ibn Ahmad As-Saffârini Al-Hanbali (w. 1188 H) menuturkan dari Ibrahim Ibn ‘Abd Allah Al-Qalasani bahwa Imam Ahmad mengatakan tentang kaum sufi.

“Saya tidak mengetahui kaum yang lebih baik dari mereka.” Seseorang berkata kepadanya, “Mereka mendengarkan musik dan mereka sampai pada keadaan mabuk.” Beliau berkata, “Apakah kamu hendak mencegah mereka untuk bersenang-senang selama sejam bersama Allah?”

3. asyariyah ( dan mauturidyah )

Apabila dikatakan asyariyah kita perlu memasukkan mauturidyah kerana dua kelompok akidah ini adalah saling berkait

Berkata sheikh yusof qardawi

“Saya telah melihat bahawa memang ada orang mengatakan demikian “iaitu orang yang mengkritik tentang al-Asy’ariyah”, kemudian beliau berkata: “Al-Azhar bukanlah satu-satunya yang berfaham Asy’ariyah… Umat Islamiyyah pun adalah Asy’ariyyah, al-Azhar adalah Asy’ariy, az-Zaituniyyah adalah Asy’ariy, ad-Deobandi (Di India) adalah Asy’ariy, Nadwah al-‘Ulama adalah Asy’ariyah, madrasah-madrasah di Pakistan adalah Asy’ariyah, dan seluruh dunia Islam (Majoriti) adalah Asy’ariyah”.

“Apabila kita mengambil perkiraan, maka sesungguhnya perkiraan majoriti umat adalah ‘Asy’ariyah, ini semuanya hanya ijtihad-ijtihad dalam masalah cabang aqidah (Furu’ aqidah), dan semua bersepakat atas Syahadatain (Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan juga terhadap kenabian (begitu pun) di dalam beriman kepada Allah, kitabNya, rasulNya dan hari kiamat. Qiamat”.

Rakaman boleh dilihat di sini https://m.youtube.com/watch?v=b9vhIJJqVTo

4. Jemaah tabligh ( deobondi )

Mereka ini adalah pd asasnya bermula dgn mazhab hanafi di india

Tetapi maulana zakariya telah memberikan kebebasan dlm memilih mana2 mazhab 4 kpd ahlinya

Perkara ini telah menyebabkan jt ( jemaah tabligh ) berkembang pesat di seluruh benua

Dr Wahbah Az Zuhayli, pakar ulama fiqh asal Syria, sangat mengapresiasi gerakan ini. Penulis kitab Mawsu’ah al Fiqh al Islamy wal Qadhaya al Muashirah ini sangat memuji JT.

Dalam salah satu fatwanya ia mengatakan bahwa “anggota Jamaah Tabligh adalah orang-orang yang sangat baik, salih, dan zuhud dan banyak berkorban untuk menyebarkan akidah Islam. ”[9]

Az Zuhayli bahkan menganggap sangat tidak pantas mempertanyakan status sesat atau tidak sesatnya JT. Bagi Az Zuhayli, orang yang mempertanyakan niat baik JT adalah orang yang dengki.[10]

            مارأيكم في جماع
[9] وهؤلاء الدعاة في غاية الصلاح والتقوى والزهد والتضحية من أجل نشر العقيدة Lihat fatawa di zuhayli.com

[10] لماذا نسأل عنهم؟‏!‏ إلا لعرقلة مسيرة الدعوة والتبليغ‏،‏ وحسداً من الآخرين

[11] ibid

#

Maka

Ingat la kawan2 semua

Ini semua hanya masalah ikhtilaf yang tidak sepatutnya kita mengkafirkan disebabkan ikhtilaf hal itu kepada seseorang muslim

Kita semua adalah ( Insya Allah ) adalah termasuk dalam satu kelompok yang telah disabdkan nabi sebagai al-jamaah, kelompok yang terselamat – amin